JAKARTA, Lingkar.news – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.313 warga mengungsi akibat gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan saat ini dalam penanganan tim gabungan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan wilayah terdampak signifikan meliputi Desa Terong, Lamahala Jaya, Dawata, Karing Lamalouk, Waiwerang, dan Ipi Ebang di Kecamatan Adonara, serta Desa Motonwutun dan Watobuku di Kecamatan Solor Timur.
Berdasarkan data terbaru per Sabtu (11/4/2026) pukul 10.55 WIB, sebanyak 238 rumah warga mengalami kerusakan dari kategori ringan hingga berat. Selain itu, tiga rumah ibadah, empat fasilitas pendidikan, dan dua fasilitas umum juga terdampak.
“Sebanyak 10 warga mengalami luka ringan dari total 285 keluarga atau 1.313 jiwa yang mengungsi secara mandiri,” ujar Abdul Muhari di Jakarta.
Penanganan darurat dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, serta dinas teknis dari Kabupaten Flores Timur dan Provinsi NTT.
Baca juga: 79 Rumah di Pulau Adonara NTT Rusak akibat Gempa M4,7
BNPB memastikan bahwa tenda pengungsian dan tenda keluarga telah didirikan di sejumlah titik yang dinilai aman dan mudah dijangkau warga. Tenda berukuran 6×12 meter juga difungsikan sebagai pos layanan kesehatan dan posko darurat.
Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat lokasi pengungsian terpusat. Sebagian besar warga memilih mendirikan tenda mandiri di sekitar rumah atau mengungsi ke rumah kerabat.
Pada malam hari, warga cenderung tetap berada di tenda karena kekhawatiran terhadap gempa susulan yang masih terjadi.
BNPB juga mencatat kebutuhan mendesak berupa tenda pengungsi, mengingat stok sebelumnya telah digunakan untuk penanganan erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
“BPBD Provinsi NTT dan BNPB saat ini sedang mendistribusikan kebutuhan tenda dan logistik serta peralatan lain yang dibutuhkan di sana,” kata Abdul.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya melaporkan gempa berkekuatan magnitudo (M) 4,7 terjadi pada Rabu (8/4/2026) dini hari.
Pusat gempa berada sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman lima kilometer. Guncangan dirasakan selama dua hingga empat detik oleh warga di wilayah terdampak.
BMKG juga mencatat adanya 48 kali gempa susulan berdasarkan pemantauan sensor getaran, yang hingga kini masih dirasakan oleh masyarakat di pesisir Pulau Adonara.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki












