MAKASSAR, Lingkar.news – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus mendorong pengembangan pertanian perkotaan (urban farming) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan untuk berkontribusi mengembangkan urban farming. Hasil panen kemudian diserap untuk memasok kebutuhan bahan pangan MBG.
“Pertanian perkotaan ini bukan hanya soal menanam, tapi bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan lahan terbatas untuk menghasilkan kebutuhan pangan sehari-hari dan nilai tambah,” ujarnya di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (23/5/2026).
Ia menekankan Pemkot Makassar secara aktif menginstruksikan jajaran wilayah untuk menghadirkan program pertanian lahan sempit sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga, sekaligus menekan laju inflasi dan mendukung program MBG.
Munafri mengapresiasi praktik urban farming yang dikembangkan oleh warga, salah satunya keluarga Haji Ridwan di Kecamatan Tamalate.
Ia menilai konsep pertanian terintegrasi yang menggabungkan budi daya ikan, sayuran, hingga ternak, menjadi contoh konkret yang bisa direplikasi di wilayah lain.
“Ini luar biasa. Ada ayam, ikan, sayur, semua terintegrasi dalam satu kawasan. Ini harus menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan yang dimiliki,” jelasnya.
Munafri mencontohkan di Tamalate, kelompok masyarakat berhasil membudidayakan kangkung dengan masa panen sekitar 20–21 hari dan mampu menghasilkan hingga 150 kilogram.
Hasil panen tersebut telah terserap oleh pasar lokal, seperti MBG yang membutuhkan pasokan rutin setiap hari. Pola kerja sama itu dinilai saling menguntungkan antara kelompok tani dan pelaku usaha.
“Ini yang kita harapkan, ada siklus ekonomi yang berjalan. Masyarakat dapat penghasilan tambahan, sementara kebutuhan pasar juga terpenuhi,” ungkapnya.
Munafri juga menekankan pengelolaan limbah yang dilakukan kelompok tani dengan memanfaatkan sisa makanan menjadi pupuk kompos. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya ekosistem pertanian berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Ia pun mendorong camat dan lurah untuk lebih aktif membuka akses serta pendampingan kepada warga agar program pertanian perkotaan semakin meluas dan terorganisir.
Selain pertanian pangan, Pemkot Makassar juga tengah mendorong pengembangan kawasan berbasis tanaman herbal. “Ini potensi besar. Kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi identitas wilayah, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ucap Munafri.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki













