REMBANG, Lingkar.news – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang memberikan edukasi dan simulasi kebencanaan bagi ratusan siswa SMPN 2 Rembang.
Langkah taktis ini dikemas melalui kegiatan pembelajaran kokurikuler guna membekali peserta didik dengan kemampuan bertahan hidup (survival skills) dan keterampilan hidup (life skill) yang aplikatif sejak usia sekolah.
Kegiatan edukatif ini dilaksanakan pada Selasa (13/10/2026) mulai pukul 09.30 WIB sampai dengan selesai. Agenda yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut diikuti dengan sangat antusias oleh sekitar 900-an murid.
Kepala SMPN 2 Rembang, Wiyono, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya integrasi mitigasi kebencanaan ini ke dalam agenda kokurikuler sekolah. Menurutnya, pemahaman teori di kelas harus diimbangi dengan keterampilan praktis yang dapat menyelamatkan jiwa di dunia nyata.
“Pada kegiatan pembelajaran kokurikuler kali ini, kami sengaja menggandeng BPBD untuk memberikan pembelajaran life skill. Langkah ini esensial untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian, serta mengasah rasa empati sosial para murid terhadap kondisi lingkungan sekitar mereka,” ujar Wiyono di sela-sela kegiatan
Kuasai Penggunaan APAR hingga Mitigasi Gempa
Selama jalannya pelatihan, personel Pemadam Kebakaran (Damkar) BPBD Rembang membekali seluruh siswa dengan materi mitigasi komprehensif. Materi tersebut mencakup pengenalan dini potensi titik api, penanganan kebocoran tabung gas LPG, hingga simulasi pemadaman api skala kecil memakai Alat Pemadam Api Ringan (APAR) serta kain basah tradisional.
Selain taktik menjinakkan si jago merah, para siswa dibekali protokol evakuasi mandiri (fire drill) saat terjadi bencana gempa bumi. Latihan ini sangat penting mengingat pengenalan jalur evakuasi dan kepatuhan instruksi darurat harus diadopsi ke dalam budaya keselamatan sekolah demi meminimalkan risiko fatalitas.
Tanamkan Budaya Tangguh Sejak Dini
Kepala Bidang Damkar BPBD Rembang menerangkan bahwa edukasi kebencanaan di sektor pendidikan terus digenjot seiring meningkatnya permintaan dari berbagai instansi sekolah di Rembang.
Upaya ini dinilai krusial untuk membangun kemandirian publik, mengingat ketenangan dan ketepatan tindakan pada menit-menit pertama terjadinya musibah sangat menentukan keselamatan.
“Sikap panik adalah musuh utama saat bencana datang karena bisa menghambat evakuasi. Melalui pelatihan kokurikuler ini, kami menanamkan kesiapsiagaan mental agar anak-anak tahu persis ke mana harus melangkah, memadamkan api sesuai kapasitasnya, atau segera menghubungi petugas pemadam jika situasi di luar kendali,” tegasnya.
Aktivitas kokurikuler interaktif ini berjalan sukses dengan antusiasme tinggi dari para siswa yang bergantian mencoba praktik pemadaman langsung di lapangan.
Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa sosial yang responsif, mandiri, serta mempercepat realisasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di seluruh wilayah Kabupaten Rembang.
Jurnalis: Hms












