JAKARTA, Lingkar.news – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mendorong penguatan penempatan pekerja migran terampil untuk memanfaatkan peluang kerja internasional yang belum terserap tenaga kerja Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI) per 25 Oktober 2026, terdapat 205.924 posisi pekerjaan di luar negeri yang masih tersedia.
Peluang tersebut membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk menyiapkan calon pekerja migran yang kompeten dan terlindungi.
Hal itu disampaikan Mukhtarudin saat menerima audiensi gabungan instansi pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Barat XI Ade Ginanjar, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, jajaran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya, serta perwakilan sejumlah perguruan tinggi di wilayah tersebut.
205 Ribu Lowongan Kerja Luar Negeri Belum Terisi
Mukhtarudin menjelaskan, data SIP2MI mencatat total 278.848 posisi pekerjaan di luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 72.924 posisi telah terserap, sedangkan 205.924 posisi lainnya masih tersedia.
“Berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI) per 25 Oktober 2026, terdapat 278.848 posisi peluang kerja di luar negeri. Sebanyak 72.924 posisi telah terserap, sementara 205.924 posisi masih tersedia,” tutur Mukhtarudin.
Menurutnya, besarnya peluang tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia agar tenaga kerja Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Peluang itu juga didukung fenomena penuaan penduduk atau aging population di sejumlah negara maju, seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa. Kondisi tersebut membuka kebutuhan tenaga kerja yang dapat dimanfaatkan Indonesia melalui penempatan yang terencana dan sesuai ketentuan.
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi penduduk usia produktif yang besar untuk mendukung pemanfaatan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
SMK Go Global Bidik 500 Ribu Tenaga Kerja hingga 2029
Untuk menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar internasional, Kementerian P2MI mendorong Program SMK Go Global. Program ini menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan keterampilan calon pekerja migran sekaligus memperluas akses terhadap peluang kerja di luar negeri.
Mukhtarudin menyebut program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja dengan target penempatan secara bertahap selama 2026–2029.
Target penempatan tersebut terdiri atas 40.000 orang pada 2026, sebanyak 140.000 orang pada 2027, kemudian 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Menteri P2MI mengajak pemerintah daerah dan perguruan tinggi memperluas sosialisasi program tersebut kepada masyarakat. Pendaftaran SMK Go Global Batch II saat ini masih dibuka hingga 31 Oktober 2026.
Kolaborasi lintas lembaga diperlukan agar calon pekerja migran memperoleh pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, memiliki kompetensi yang dibutuhkan negara tujuan, serta memahami prosedur penempatan yang aman.
Migrant Center Diperluas untuk Edukasi Migrasi Aman
Selain peningkatan keterampilan, Kementerian P2MI memperkuat edukasi migrasi aman melalui pembentukan Migrant Center di lingkungan perguruan tinggi.
Hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 43 Migrant Center telah diresmikan di perguruan tinggi dan satu di lembaga pelatihan.
Keberadaan pusat layanan tersebut diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh informasi lowongan kerja luar negeri yang resmi, memahami prosedur penempatan, serta mengetahui hak dan bentuk pelindungan yang tersedia bagi pekerja migran.
Kementerian P2MI juga menawarkan kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi melalui pembentukan Migrant Center, penyebarluasan informasi lowongan kerja prosedural, pertukaran data untuk pemetaan kebutuhan tenaga kerja, serta peningkatan kapasitas calon pekerja migran.
“Penting juga pertukaran data untuk pemetaan kebutuhan tenaga kerja kita, serta peningkatan kapasitas calon Pekerja Migran Indonesia kita lebih berkualitas,” tandas Mukhtarudin.
Kolaborasi tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung sosialisasi dan pelaksanaan Program SMK Go Global serta memperkuat pelindungan pekerja migran sejak sebelum bekerja, selama bekerja, hingga setelah kembali ke Indonesia.
Jabar Jadi Wilayah Potensial Penempatan Pekerja Migran
Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang berpotensi mendukung peningkatan penempatan pekerja migran Indonesia. Data Kementerian P2MI mencatat 239.821 layanan penempatan pekerja migran asal provinsi tersebut selama 2023 hingga 26 Oktober 2026.
Dari jumlah itu, Kabupaten Garut mencatat 2.725 layanan, Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 1.412 layanan, dan Kota Tasikmalaya sebanyak 560 layanan.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menekankan pentingnya verifikasi dan koordinasi antarpihak dalam memperluas penempatan tenaga kerja ke luar negeri. Ia juga menyoroti perlunya penguatan pelindungan pekerja migran, termasuk dalam menghadapi regulasi negara tujuan seperti Korea Selatan.
Abdusy turut mendorong jalur penempatan resmi antarpemerintah atau Government to Government (G2G) yang lebih cepat, tertib hukum, dan tidak terbebani birokrasi yang rumit.
Ia mengusulkan kolaborasi pemanfaatan fasilitas dan lembaga pelatihan yang sudah tersedia untuk menyiapkan tenaga kerja melalui program pelatihan singkat, padat, dan sesuai kebutuhan pasar internasional.
Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi, Mukhtarudin berharap peluang kerja global dapat dimanfaatkan secara optimal. Upaya tersebut juga diharapkan memperluas kesempatan kerja bagi lulusan daerah, menekan penempatan pekerja migran secara nonprosedural, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penulis: Amelia Erisanna












