JEMBER, Lingkar.news – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut Kabupaten Jember sebagai salah satu daerah percontohan nasional dalam pelaksanaan program MBG (Makan Bergizi Gratis).
“Jember ini menjadi contoh karena pendataan dilakukan sampai ke tingkat desa, RT, dan RW, sehingga lebih akurat,” kata Dadan saat kunjungan kerja di Jember, Kamis (16/04/2026).
Berdasarkan pendataan yang mengacu pada data pendidikan, keagamaan, dan kependudukan, jumlah penerima manfaat MBG di Jember mencapai sekitar 800.000 orang atau sekitar 30 persen dari total penduduk.
Namun, masih terdapat sejumlah calon penerima yang belum terdata, seperti santri, balita tanpa Nomor Induk Kependudukan (NIK), hingga anak dari pernikahan dini atau pernikahan siri.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Jember diperkirakan membutuhkan sekitar 400 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap unit mengelola anggaran sekitar Rp1 miliar per bulan, dengan komposisi sekitar 70 persen untuk bahan baku pangan lokal, 20 persen operasional termasuk honor relawan, dan 10 persen untuk pengembalian investasi.
“Program ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat, termasuk ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan,” jelasnya.
Secara nasional, terdapat sekitar 26.800 SPPG yang telah terdaftar dan seluruhnya dijalankan oleh mitra.
“Para mitra ini kami sebut sebagai pejuang Merah Putih karena membantu percepatan pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia,” katanya.
Menanggapi isu yang berkembang di media sosial, Dadan menegaskan bahwa peran aktif masyarakat dalam pengawasan program sangat penting.
“Kami berterima kasih atas setiap kritik dan masukan yang disampaikan. Semua laporan di media sosial selalu kami cermati dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), menyatakan bahwa program MBG mendapat sambutan antusias dari masyarakat, meskipun sempat muncul narasi sebaliknya di media sosial.
“Kalau kami turun langsung ke bawah, baik di SD, SMP, bahkan saat siaran langsung di media sosial, yang ditanyakan masyarakat adalah kapan mendapatkan MBG,” ujarnya.
Menurutnya, program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Gus Fawait menyebut jika program berjalan optimal, perputaran dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui MBG di Jember diperkirakan mencapai hampir Rp4 triliun per tahun, mendekati total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jember yang berkisar Rp4,3 triliun.
“Perputaran ekonomi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan pada akhirnya berdampak pada pengentasan kemiskinan,” katanya.
Gus Fawait juga menilai kekhawatiran terkait inflasi tidak perlu berlebihan selama masih dalam batas terkendali dan berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah Kabupaten Jember akan mendorong pemanfaatan produk lokal dalam operasional SPPG agar manfaat ekonomi semakin dirasakan masyarakat luas.
“Kami akan mengawal program ini agar sukses dan berharap dapat membantu menurunkan angka kemiskinan di Jember, yang saat ini masih tertinggi kedua di Jawa Timur,” pungkasnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki













