JEMBER, Lingkar.news – Akses penghubung warga di pelosok Kabupaten Jember kembali terbuka setelah Jembatan Lembung Lanjheng diresmikan Bupati Jember Muhammad Fawait.
Jembatan gantung tersebut menghubungkan Dusun Rejeb Dagan, Desa Sukowiryo, dengan Dusun Keces 1, Desa Sukojember, Kecamatan Jelbuk. Keberadaannya menjadi akses penting bagi aktivitas masyarakat dari kedua wilayah.
Sebelumnya, warga setempat telah memiliki jembatan yang dibangun sekitar empat tahun lalu melalui dana swadaya masyarakat. Namun, jembatan tersebut ambruk setelah diterjang banjir pada Desember 2025.
Pembangunan kembali Jembatan Lembung Lanjheng kemudian dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak. Selain dukungan pendanaan, masyarakat setempat juga bergotong royong membantu proses pembangunan.
Hampir 70 warga secara bergantian ikut membantu pembangunan jembatan gantung tersebut setiap hari. Warga bahkan turut menyediakan konsumsi bagi para pekerja sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan fasilitas yang menjadi kebutuhan bersama.
Jauhari (55), warga Dusun Keces, Desa Sukojember, mengatakan jembatan tersebut sangat dibutuhkan karena menjadi jalur penghubung masyarakat antardusun dan desa.
“Dahulunya memang ada jembatan, sekitar empat tahun lalu dibangun menggunakan dana swadaya. Namun pada Desember 2025 terkena banjir sehingga ambrol,” ungkapnya.
Pembangunan Jembatan Lembung Lanjheng terlaksana melalui dukungan dana corporate social responsibility (CSR) dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), dengan pelaksana Vertical Rescue Indonesia.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur di Jember tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Alhamdulillah, Kabupaten Jember sekali lagi tidak bisa membangun hanya kalau mengandalkan APBD. Kita harus bersinergi dengan semuanya, termasuk APBN,” ujar Gus Fawait seusai peresmian.
Ia mengatakan Pemkab Jember telah memperoleh dukungan pembangunan puluhan jembatan melalui APBN. Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus membuka ruang kolaborasi dengan komunitas dan pihak swasta untuk mempercepat pemerataan pembangunan.
“Hari ini juga dari komunitas, dari pihak swasta, alhamdulillah lewat Pak Jenderal AM Putranto dan juga dari PSMTI, kita juga dapat bantuan untuk jembatan gantung. Sehingga nanti ini akan menambah pembangunan infrastruktur di Kabupaten Jember,” katanya.
Gus Fawait menilai kolaborasi menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pembangunan sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga wilayah pelosok.
“Saya yakin kalau kolaborasi bersama-sama, mudah-mudahan bisa membuat Jember baru, Jember maju, dan pembangunan merata di Jember. Bukan cuma di kota saja, tetapi sampai ke pelosok-pelosok semuanya,” tegasnya.
Bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu juga menyampaikan apresiasi kepada Jenderal Putranto, PSMTI, Pegadaian, serta seluruh pihak yang ikut mendukung pembangunan infrastruktur di Kabupaten Jember.
“Terima kasih kepada Pak Jenderal Putranto, terima kasih kepada PSMTI, sama Pegadaian juga yang bahu-membahu untuk ikut serta membangun apapun itu, termasuk ini infrastruktur jalan di Kabupaten Jember,” tuturnya.
Menurut Gus Fawait, sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan Jembatan Lembung Lanjheng. Pemkab Jember akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan pemerataan akses bagi masyarakat.
“Hari ini dua, mudah-mudahan nanti bisa lebih,” pungkasnya.
Peresmian Jembatan Lembung Lanjheng menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur tidak selalu harus bertumpu pada pemerintah. Ketika pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha bergerak bersama, kebutuhan dasar masyarakat di wilayah pelosok pun dapat diwujudkan secara nyata.
Jurnalis: Agung
Editor: Basuki













