SEMARANG, Lingkar.news – Menyikapi maraknya kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengambil langkah antisipatif dengan memperketat pengawasan mulai dari pengolahan hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
Melalui Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan), Pemkot Semarang memberikan pelatihan kepada 39 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan melakukan uji keamanan bahan makanan yang digunakan di dapur-dapur MBG.
“Kami sudah lakukan langkah antisipatif, dan berharap tidak terjadi lagi kasus keracunan dalam pelaksanaan makan gratis bagi siswa ini,” kata Kepala Dishanpan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, pada Selasa, 30 September 2025.
Endang menjelaskan bahwa pelatihan yang diberikan menyasar tenaga ahli gizi di SPPG dengan fokus pada pengecekan bahan pangan sebelum diolah menjadi masakan yang akan dikirim ke sekolah.
“Jadi kami mengundang SPPG terutama bagian ahli gizi, untuk diberi pelatihan untuk menguji keamanan bahan makanan,” ujarnya.
Sekretaris Dishanpan Kota Semarang, Eko Yuniarto, menambahkan pihaknya juga aktif memantau kualitas bahan pangan dengan mengerahkan mobil keamanan pangan yang berkeliling ke pasar tradisional dan dapur MBG.
“Kami kunjungi 1 hingga 4 pasar setiap hari untuk identifikasi dan pembinaan. Selain itu, kami juga turun langsung ke dapur-dapur MBG,” ungkap Eko.
Selain itu, dapur MBG juga diwajibkan menyerahkan sampel bahan makanan dan jadwal distribusi ke sekolah untuk memudahkan proses pengawasan.
Eko menekankan pentingnya menjaga kualitas makanan selama proses pengiriman.
“Kami tingkatkan kewaspadaan, terutama dari potensi bahan berbahaya dan juga kualitas makanan yang bisa menurun selama proses distribusi, apalagi kalau sayur terlalu lama di perjalanan,” jelasnya.
Dukungan pengawasan ini turut diapresiasi oleh Koordinator SPPG Kota Semarang, Raesa Oktavia.
Ia menyebut bantuan dari Dishanpan membantu timnya memahami bahan mana yang aman digunakan serta pentingnya manajemen waktu produksi dan distribusi.
“Kami jadi tahu bahan mana yang aman digunakan. Selain itu, waktu produksi dan distribusi juga menjadi perhatian penting,” ujar Raesa.
Ia menambahkan, masa konsumsi makanan sangat terbatas, sehingga koordinasi dengan pihak sekolah terkait waktu penyajian menjadi hal yang krusial.
“Dishanpan juga turut memantau penyimpanan bahan baku, karena kadang penyimpanan yang tidak tepat bisa jadi penyebab masalah,” pungkasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid












