LOMBOK, Lingkar.news – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana memastikan rehabilitasi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascakebakaran pada 22 Agustus 2026, tetap menjaga keaslian budaya masyarakat Sasak sekaligus memperkuat keselamatan kawasan dan keberlangsungan ekonomi warga.
Saat meninjau kembali proses rehabilitasi pada Minggu, 11 Oktober 2026, Widiyanti menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga menghidupkan kembali kehidupan sosial, tradisi, dan mata pencaharian masyarakat setempat.
“Prinsip kita jelas, yaitu membangun kembali Desa Adat Sade agar lebih aman dan lebih tangguh, tanpa kehilangan keaslian arsitektur serta nilai-nilai adat yang menjadi identitasnya,” kata Widiyanti.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) juga telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja senilai total Rp817,5 juta untuk membantu warga kembali menjalankan kegiatan ekonomi selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung.
Bantuan tersebut terdiri atas 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun.
Dukungan ini ditujukan agar para perajin dan pelaku UMKM dapat kembali berproduksi, memasarkan hasil kerajinan, dan memperoleh penghasilan tanpa harus menunggu seluruh pembangunan fisik selesai.
Bagi masyarakat Desa Adat Sade, kerajinan tenun tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan pengetahuan lokal masyarakat Sasak yang diwariskan secara turun-temurun.
Widiyanti mengatakan, dampak kebakaran tidak dapat diukur hanya dari kerugian materiil. Pemulihan juga harus mencakup kehidupan sosial, aktivitas ekonomi, dan warisan budaya masyarakat yang terdampak.
“Namun, bagi kita, angka tersebut tidak hanya menggambarkan kerugian fisik. Ada kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan warisan budaya yang harus kita pulihkan secara bersamaan,” ujarnya.
Rekonstruksi Desa Adat Sade telah dimulai pada 3 September 2026 melalui ritual adat Nyemulak (Tanjak Teken) sebagai simbol peletakan batu pertama pembangunan kembali kawasan tersebut bersama para mitra.
Pada tahap awal, pembangunan diprioritaskan untuk fasilitas yang menunjang kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Pembangunan dimulai dari masjid, kemudian sekenam atau ruang berkumpul, museum semipermanen, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak.
Rekonstruksi selanjutnya dilakukan secara menyeluruh dengan mempertahankan karakteristik arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, serta pola kehidupan masyarakat Sasak yang menjadi ciri khas Desa Adat Sade.
Selain menjaga keaslian kawasan, pemerintah juga menekankan pentingnya peningkatan keselamatan masyarakat dan wisatawan. Sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat akan menjadi bagian dari pembangunan kembali.
Upaya tersebut mencakup penyediaan sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, pasokan air, alat pemadam kebakaran, perbaikan sanitasi, serta infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.
Widiyanti menegaskan, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan keamanan agar Desa Adat Sade dapat kembali menjadi destinasi wisata budaya yang nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pariwisata bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah serta mitra strategis meninjau dampak kebakaran sekaligus mendukung upaya pemulihan kawasan.
Sinergi berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat pemulihan masyarakat tanpa mengabaikan pelestarian warisan budaya dan keberlanjutan pariwisata Desa Adat Sade.
Jurnalis: Hms
Editor: Basuki













