KABUPATEN BANTUL, LINGKAR.NEWS – Kelurahan Jagalan di Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyimpan kekayaan sejarah dan warisan budaya yang masih hidup secara autentik di tengah masyarakat hingga saat ini. Sebagai bagian dari lanskap historis Kotagede yang merupakan bekas ibu kota Mataram Islam, kawasan ini tidak hanya menampilkan situs-situs kerajaan, tetapi juga menyajikan permukiman tradisional, kerajinan, kuliner khas, hingga tradisi yang terus dilestarikan antargenerasi secara berkelanjutan.
Berdasarkan data yang dihimpun pada Sabtu, 11 Oktober 2026, kekayaan di Jagalan terbagi menjadi cagar budaya kebendaan yang telah ditetapkan secara resmi serta warisan budaya takbenda yang mencakup keterampilan, tradisi, dan praktik kehidupan sehari-hari. Sejumlah bangunan cagar budaya yang menonjol di antaranya adalah Langgar Dhuwur Celenan yang tercatat berdasarkan SK Bupati Bantul Nomor 522 Tahun 2019, Joglo Jagalan I dan II, serta Omah UGM di Gang Soka yang ditetapkan melalui SK Bupati Bantul Nomor 536 Tahun 2019. Bangunan-bangunan tradisional tersebut tidak hanya bernilai arsitektural tinggi, tetapi juga merefleksikan kearifan lokal dalam menata ruang hidup, tempat tinggal, dan aktivitas spiritual keluarga.
Selain bangunan fisik, denyut nadi kehidupan di Jagalan juga dihidupkan oleh berbagai warisan budaya takbenda, seperti kerajinan perak Kotagede, kuliner tradisional meliputi kipo, kembang waru, legomoro, dan yangko, serta tradisi masyarakat seperti Nawu Sendang dan Nyadran. Keberadaan lorong-lorong gang sempit di perkampungan ini turut berfungsi sebagai infrastruktur sosial yang mempererat interaksi dan ikatan kekeluargaan antarwarga setempat setiap harinya.
Menanggapi kompleksitas dan kekayaan warisan tersebut, seorang tokoh warga setempat menegaskan bahwa pelestarian di kawasan ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata. “Semua unsur tersebut membentuk satu lanskap budaya yang saling berkaitan. Nilai Jagalan tidak hanya berada pada bangunan yang masih berdiri, tetapi juga pada masyarakat yang terus menggunakan ruangnya, mempraktikkan keterampilannya, dan mewariskan pengetahuannya,” ujar tokoh warga tersebut saat memberikan keterangan terkait pelestarian kawasan bersejarah.
Upaya menjaga kesinambungan warisan budaya di Jagalan kini terus dilakukan melalui dokumentasi sejarah, perlindungan objek bernilai penting, regenerasi perajin dan seniman lokal, serta penyelenggaraan kegiatan budaya kontemporer seperti Pasar Lawas dan Jagalan Festival. Melalui langkah-langkah tersebut, Jagalan diharapkan tetap menjadi ruang hidup di mana sejarah Mataram Islam terus dirawat dan diwariskan secara nyata kepada generasi masa depan.
Penulis : Yuni Lestari / Tenaga Ahli Kabupaten Bantul – Lokasi : (Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta)












