SEMARANG, Lingkar.news – Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah (Jateng) Muhammad Masrofi menegaskan kebijakan larangan pesta kembang api pada malam tahun baru tidak akan berdampak signifikan terhadap jumlah kunjungan wisata di Jawa Tengah.
Sebelumnya, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan malam pergantian tahun secara berlebihan, salah satunya dengan menggelar pesta kembang api di hotel maupun tempat wisata.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk empati dan penghormatan kepada para korban banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat beberapa waktu lalu.
“Kita menghormati imbauan dari pemerintah pusat. Seperti besok pada tahun baru tidak usah euforia berlebihan, salah satunya tidak menggunakan kembang api. Tapi kalau secara signifikan menurunkan pengunjung wisata, saya pikir tidak,” ujar Masrofi saat ditemui di kantornya, Senin, 29 Desember 2025.
Masrofi menjelaskan, tujuan utama masyarakat berkunjung ke destinasi wisata adalah untuk menikmati daya tarik dan keindahan objek wisata itu sendiri, bukan semata-mata atraksi tambahan seperti pesta kembang api.
“Misalnya saya pergi ke Candi Borobudur di Magelang, yang saya lihat ya ornamennya, bukan kembang apinya. Karena kembang api hanya salah satu atraksi tambahan saja. Kalau tidak ada pun tidak masalah,” ungkapnya.
Meski demikian, Disporapar Jawa Tengah tetap menyampaikan imbauan kepada pengelola wisata dan masyarakat agar tidak terbawa suasana euforia berlebihan dalam perayaan tahun baru.
Imbauan tersebut disampaikan secara lisan dalam berbagai kesempatan dan pertemuan, tanpa diterbitkan surat edaran resmi.
“Tidak secara resmi melarang menyalakan kembang api, tapi sekadar imbauan agar kita ikut merasakan keprihatinan yang sedang dialami saudara-saudara kita yang terkena musibah,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid












