SEMARANG, LINGKAR.NEWS – Wakil Gubernur Jateng (Jawa Tengah) Taj Yasin Maimoen menyampaikan bahwa tingkat kemiskinan di wilayahnya turun menjadi 9,48 persen pada Maret 2025
Penurunan ini disebut sebagai hasil dari intervensi di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga bantuan rumah tidak layak huni (RTLH).
“Kemiskinan itu indikatornya banyak. Dari indikator-indikator yang ada itu, sudah kita kerjakan semuanya,” kata Taj Yasin di Semarang, Jumat (25/7).
Meski demikian, ia menilai penurunan tersebut belum cukup dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, pembenahan sistem data menjadi pondasi penting agar program pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran.
Ia mengacu pada perubahan data kesejahteraan dari DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) menjadi DT-SEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional) yang menurutnya perlu dikawal pelaksanaannya.
“Perubahan-perubahan ini harus kita kawal,” ujarnya.
Ia juga mendorong partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi, untuk mempercepat pembangunan daerah.
Taj Yasin mengingatkan bahwa penanggulangan kemiskinan tidak bisa dibebankan pada satu dinas saja. Ia menilai indikator kemiskinan perlu menjadi tanggung jawab bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
“Indikator-indikator kemiskinan ini harus kita titipkan di setiap OPD. Ketika ada satu indikator muncul, dinas terkait juga harus menyentuh indikator lainnya,” jelasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 9,48 persen, turun 0,10 persen poin dibandingkan September 2024 yang tercatat 9,58 persen.
Jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 mencapai 3,37 juta orang, turun 29.650 orang dibanding September 2024.
Penduduk miskin di perkotaan tercatat turun dari 1,84 juta menjadi 1,75 juta orang. Sementara di perdesaan, jumlahnya menurun dari 1,87 juta menjadi 1,62 juta orang.
Jurnalis : Rizky S
Editor : Anas M













