BANTUL, LINGKAR.NEWS – Sentra industri rumah tangga kue tradisional yangko di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta, terus mempertahankan eksistensinya sebagai warisan budaya kuliner bersejarah yang lekat dengan kawasan Kotagede dan perjalanan lintas generasi hingga Sabtu (11/10/2026).
Jajanan tradisional berbahan dasar tepung ketan dengan isian manis kacang tanah ini memiliki akar sejarah yang kuat dengan peradaban Mataram Islam. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, yangko konon dahulu dikenal sebagai hidangan istimewa kalangan raja dan priyayi, bahkan sempat dihubungkan sebagai bekal perjalanan Pangeran Diponegoro karena sifatnya yang relatif tahan lama disimpan. Riwayat perkembangan usaha kuliner ini sendiri mulai dikembangkan oleh leluhur keluarga pembuat setempat yang akrab disapa Mbah Ireng sekitar tahun 1921, sebelum akhirnya semakin dikenal luas oleh masyarakat pada 1939.
Selain mempertahankan cita rasa khas dan tekstur kenyalnya, para perajin lokal saat ini terus melakukan inovasi dengan menghadirkan beragam varian warna dan rasa guna menyesuaikan diri dengan selera pasar modern. Kendati demikian, para pelaku usaha tetap berkomitmen untuk menjaga mutu, karakter dasar, serta keaslian proses produksi agar nilai historisnya tidak luntur di tengah arus modernisasi.
Pengrajin setempat menegaskan bahwa eksistensi kudapan tradisional ini tidak hanya sekadar menyuguhkan cita rasa, melainkan juga menyimpan nilai filosofis yang mendalam mengenai ketekunan dan ikatan kekeluargaan. “Yangko mengajarkan bahwa warisan budaya dapat bertahan melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selama resep dipraktikkan, keterampilan diwariskan, dan usaha terus dikembangkan tanpa melupakan asal-usulnya, sejarah akan tetap hadir dalam kehidupan masyarakat,” ujar pengrajin yangko saat ditemui di lokasi produksi.
Penulis : Yuni Lestari / Tenaga Ahli Kabupaten Bantul – Lokasi : (Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta)












