KABUPATEN BANTUL, LINGKAR.NEWS – Pelataran Masjid Gedhe Mataram di Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, mendadak dipenuhi aroma jajanan tradisional serta alunan kesenian Jawa yang menghidupkan kembali suasana pasar tempo dulu. Kegiatan bertajuk Pasar Lawas Mataram yang digelar pada 25 hingga 27 September 2026 ini sukses memadukan unsur nostalgia sejarah, pelestarian budaya, dan penggerak ekonomi kerakyatan melalui tema “Momong, Momor, Momot”.
Agenda budaya tahunan yang diinisiasi dari ingatan kolektif warga mengenai sejarah halaman masjid sebagai ruang perdagangan ini mengalami perkembangan signifikan. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), jumlah pelaku usaha atau *tenant* yang berpartisipasi melonjak dari 15 stan pada penyelenggaraan awal, kini berkembang menjadi 55 *tenant* UMKM lokal pada tahun 2026.
Para pengunjung yang hadir disuguhkan berbagai kuliner warisan leluhur seperti apem, jadah, wajik, geplak, cenil, gatot, tiwul, dawet, hingga wedang uwuh. Suasana tempo dulu semakin kental karena para pedagang mengenakan pakaian tradisional surjan dan kebaya, serta diiringi pertunjukan seni karawitan, macapat, dan hadrah yang melibatkan interaksi langsung lintas generasi.
Pihak penyelenggara dan pamong kalurahan menegaskan bahwa pelaksanaan festival ini tidak hanya berorientasi pada kemeriahan sesaat, melainkan menitikberatkan pada keberlanjutan ekonomi serta edukasi budaya. “Penguatan kapasitas UMKM, dokumentasi resep dan sejarah kuliner, pelibatan pemuda, pengelolaan sampah, serta evaluasi dampak ekonomi dapat menjadi bagian dari pengembangan berikutnya. Dengan begitu, festival tidak berhenti sebagai peristiwa tahunan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem budaya dan ekonomi lokal,” ungkap pamong kalurahan dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Berada di kawasan cagar budaya Kotagede, pemanfaatan ruang publik di sekitar Masjid Gedhe Mataram ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang terukur bagi warga Jagalan. Melalui promosi yang terarah dan pendampingan berkelanjutan, tradisi dan warisan Mataram terbukti mampu hidup berdampingan dengan kebutuhan modern tanpa kehilangan identitas aslinya.
Penulis : Yuni Lestari / Tenaga Ahli Kabupaten Bantul – Lokasi : (Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta)












