PATI, Lingkar.news – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pati Gembong ditutup sementara setelah ratusan pelajar di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, hingga Kamis (10/9/2026) pukul 11.00 WIB, tercatat 265 pelajar mengalami gejala mual dan diare setelah mengonsumsi menu MBG yang disediakan SPPG tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 pelajar harus menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan, sedangkan 138 pelajar menjalani rawat jalan.
Pelajar yang menjalani rawat inap tersebar di empat rumah sakit, yakni 23 siswa di RSUD RAA Soewondo Pati, 12 siswa di RS Mitra Bangsa, 18 siswa di RS Keluarga Sehat, dan satu siswa di RS Fastabiq.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pati dr. Joko Leksono mengatakan operasional SPPG Pati Gembong ditunda sementara untuk proses pemeriksaan dan evaluasi.
“Sementara ini di-suspend dulu, protapnya minimal 3 bulan, paling lama 6 bulan, kemudian ada pemeriksaan dari Dinas Kesehatan dari awal lagi, kita teliti apakah (SPPG) layak lagi, penuhi syarat untuk mendapat izin operasi lagi,” kata Joko.
Baca juga: Dugaan Keracunan MBG di Pati Ditetapkan sebagai KLB, SPPG Gembong Terancam Ditutup Permanen
Menurutnya, penghentian sementara tersebut menjadi bagian dari prosedur sebelum SPPG dapat kembali beroperasi. Pemeriksaan nantinya dilakukan untuk memastikan seluruh persyaratan kesehatan dan kelayakan operasional telah terpenuhi.
Kasus dugaan keracunan MBG ini juga mendapat perhatian Komisi D DPRD Kabupaten Pati. Komisi D melakukan inspeksi mendadak (sidak) sekaligus menjenguk sejumlah pelajar yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati Endah Sri Wahyuningati mengatakan sejumlah pelajar mengalami keluhan diare, mual, hingga sesak napas dan harus mendapatkan perawatan.
Ia memastikan biaya perawatan para korban akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Pati.
Komisi D DPRD Kabupaten Pati juga akan membahas evaluasi dan rekomendasi sanksi terhadap SPPG serta kemungkinan pemberian kompensasi bagi korban dugaan keracunan MBG. Pembahasan akan dilakukan bersama pihak terkait seiring dengan penghentian sementara operasional SPPG untuk proses evaluasi.
“Ini harus menjadi perhatian supaya tidak terjadi lagi, pasti akan kami evaluasi, dan merekomendasikan sanksi karena SPPG ini kan alurnya vertikal,” kata Endah.
Menurut Endah, sejumlah pelajar bahkan mengalami trauma setelah kejadian tersebut. Kondisi itu menjadi perhatian karena makanan yang dikonsumsi para siswa dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda basi sebelum menimbulkan keluhan kesehatan.
“Sebagian anak trauma, karena makanan enak, tidak bau dan basi tapi mengalami keracunan, makanya harus jadi evaluasi agar tidak terulang,” sambungnya.
Kejadian tersebut juga membuat orang tua korban khawatir. Mereka berharap penyedia menu MBG melakukan perbaikan sehingga makanan yang didistribusikan kepada siswa benar-benar aman dan layak dikonsumsi.
Andira, salah satu orang tua korban, mengatakan anaknya mengalami trauma setelah kejadian tersebut.
“Tadi anaknya bilang ‘MBG-nya bikin trauma’, jadinya kita tidak memaksakan mau makan lagi atau nggak,” kata Andira.
Sejumlah orang tua juga meminta program MBG dievaluasi, termasuk skema penyediaan dan distribusi makanan, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan kesehatan penerima manfaat tetap terjamin.
Jurnalis: Mutia Parasti
Editor: Basuki












