Cilegon, Lingkar.news – Warga Kampung Gunung Batur, Kelurahan Mekarsari, Kota Cilegon, Banten, menjadikan sumber mata air alami di kawasan Sumur Bendung sebagai tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan domestik di tengah krisis air akibat kemarau panjang.
Salah seorang warga, Herlina (30), menuturkan bahwa kondisi sulit air telah berlangsung selama satu bulan terakhir akibat ketiadaan curah hujan. Situasi tersebut memaksa warga untuk menempuh perjalanan sulit menyusuri jalan setapak sejauh satu kilometer menuju lokasi mata air di dalam kawasan hutan.
Setiap hari kami harus berjalan kaki sekitar satu kilometer ke dalam hutan. Ini menjadi satu-satunya sumber mata air kami saat kekeringan melanda seperti sekarang, ujar Herlina pada Rabu (15/7/2026).
Herlina menambahkan, keberadaan mata air tersebut sangat vital bagi keberlangsungan hidup warga, di mana air yang mengalir dari sela-sela batuan gunung dimanfaatkan untuk memasak, air minum, hingga aktivitas mandi dan mencuci.
Kalau tidak ada mata air ini, kami tidak tahu lagi harus mencari air ke mana. Air dari gunung ini sangat segar, paparnya.
Demi menjaga keberlangsungan pasokan, warga menerapkan sistem antrean ketat selama 24 jam penuh agar pemanfaatan air tetap merata.
Kami mengantre dari pukul 18.00 WIB sampai jam 06.00 WIB, jadi siang malam lokasi ini penuh. Sehari dibatasi hanya untuk tujuh sampai delapan orang yang dapat giliran. Kalau siang paling dapat 12 galon, tapi kalau malam bisa sampai 14 galon karena cuaca sudah tidak panas, jelasnya.
Warga lainnya, Masitoh (45), menyatakan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap mata air ini semakin tinggi dikarenakan bantuan air bersih dari pemerintah masih sangat terbatas.
Bantuan air bersih dari pemerintah sejauh ini baru masuk sekitar dua kali saja. Untungnya ada mata air alami ini yang terus mengalir meskipun debetnya mengecil akibat tidak ada hujan, kata Masitoh.
Struktur geografis yang didominasi batuan keras menyulitkan pembuatan sumur bor, sehingga menjaga kelestarian mata air alami menjadi kunci utama ketahanan warga dalam menghadapi kekeringan musiman.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis













