REMBANG, Lingkar.news – SMP Negeri 5 Rembang membagikan praktik baik pelaksanaan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) kepada tujuh SMP/MTs di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Langkah ini dilakukan untuk memperluas literasi kependudukan di kalangan pelajar melalui pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan keterlibatan orang tua.
Kegiatan pengimbasan tersebut dilaksanakan di aula Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DinsosPPKB) Kabupaten Rembang pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Kepala SMPN 5 Rembang, Menik Mustikatun, S.Pd., mengatakan pengimbasan merupakan bentuk tanggung jawab sekolah setelah ditetapkan sebagai pelaksana SSK tahun 2026 oleh DinsosPPKB Kabupaten Rembang. Penetapan tersebut ditandai dengan peluncuran program SSK SMPN 5 Rembang oleh Wakil Bupati Rembang.
“SSK ini program kolaborasi Kemendikbud, BKKBN, dan Dinsos. Setelah kami dibina, kewajiban kami adalah menularkan,” kata Menik.
Menurutnya, program tersebut tidak boleh berhenti di SMPN 5 Rembang. Karena itu, sekolah mendampingi tujuh sekolah imbas dalam mengembangkan pendidikan kependudukan.
Menik menjelaskan, pengimbasan tidak hanya bertujuan menyosialisasikan program SSK, tetapi juga memastikan isu kependudukan, pembangunan keluarga, dan Generasi Berencana (GenRe) terintegrasi dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
Penerapannya mencakup pembelajaran di kelas, pengembangan pojok kependudukan, hingga kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Palang Merah Remaja (PMR), dan kegiatan lainnya.
Menik menjelaskan, tujuh sekolah imbas tersebut mendapat pendampingan untuk mengembangkan pojok kependudukan, mengintegrasikan materi kependudukan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), serta membuat media pembelajaran yang inovatif.
Media tersebut antara lain berupa pop-up book dan lagu bertema SSK yang dibuat oleh para siswa. Sejumlah sekolah imbas juga mulai mengembangkan mural dan majalah dinding bertema kependudukan secara mandiri.
“Kami tidak ingin SSK hanya berhenti di SMPN 5 saja. Alhamdulillah tahun ini kami bisa mengimbaskan ke tujuh sekolah. Prinsip kami, kalau SMPN 5 bisa, sekolah lain pasti bisa,” kata Menik.
Menik menambahkan, pelaksanaan pendidikan kependudukan melibatkan berbagai unsur sekolah. Siswa didorong menjadi kader, guru diajak mengintegrasikan materi SSK ke dalam 11 mata pelajaran, sedangkan orang tua dilibatkan melalui program GEMAR dan kegiatan parenting.

Menurut Menik, pendekatan tersebut diharapkan membuat pendidikan kependudukan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sekaligus membangun kesadaran mengenai persoalan kependudukan dan pembangunan keluarga.
Dari kegiatan pengimbasan itu, sekolah-sekolah peserta juga mulai meningkatkan perhatian terhadap pentingnya pendataan kependudukan, pencegahan stunting, serta perencanaan masa depan remaja melalui PIK-R.
Menik berharap tujuh sekolah imbas tersebut nantinya dapat meneruskan praktik baik SSK ke sekolah lain sehingga terbentuk efek berantai dalam penyebaran literasi kependudukan di Kabupaten Rembang.
“Kami berharap gerakan ini menjadi ekosistem bersama, sehingga Rembang menjadi kabupaten dengan literasi kependudukan terkuat di Jawa Tengah,” ujarnya.
Pengembangan program tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pendidikan kependudukan, termasuk dengan pengelola program Dalduk KB, Puskesmas Rembang 1, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) untuk mendukung program GenRe.
(Hms/Lingkar.news)













