WONOSARI, LINGKAR.NEWS – Warung Jenang Dawet Mbah Dawet di kawasan Taman Bunga Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus mempertahankan eksistensinya sebagai destinasi kuliner legendaris yang telah beroperasi sejak tahun 1965.
Hingga kini, warung yang menyajikan perpaduan jenang dan dawet dengan resep otentik tersebut tetap menjadi buruan utama masyarakat lokal maupun wisatawan yang mencari cita rasa tradisional.
Usaha yang dirintis oleh mendiang Karto Yatinah atau yang akrab disapa Mbah Dawet ini kini dikelola oleh generasi penerusnya, termasuk sang anak, Parti.
Berlokasi di Jalan Sumarwi, warung ini menawarkan menu khas berupa kombinasi cendol, santan, juruh, bubur sumsum, dan jenang ngangrang yang menyajikan sensasi rasa manis serta gurih yang konsisten selama puluhan tahun.
Parti mengungkapkan bahwa antusiasme pelanggan terhadap kuliner tradisional ini masih sangat tinggi, terutama pada jam operasional pagi hari.
"Pengunjung biasanya ramai sejak warung mulai buka. Ketika hari mulai siang, pilihan makanan yang tersedia semakin terbatas karena banyak sajian telah habis dibeli pelanggan," ujar Parti saat ditemui di lokasi, Sabtu (17/10/2026).
Selain jenang dawet, warung ini juga menyediakan berbagai jajanan pasar tradisional lainnya seperti tiwul, gatot, gudeg, sayur pepaya muda, hingga aneka olahan tempe seperti tempe benguk dan tempe koro.
Keberagaman menu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin bernostalgia dengan cita rasa masakan Jawa tempo dulu.
Bagi keluarga pengelola, mempertahankan warung ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan upaya menjaga identitas kuliner dan warisan leluhur.
Di tengah arus modernisasi kuliner, Jenang Dawet Mbah Dawet tetap bertahan dengan kesederhanaan penyajian dan kualitas rasa yang terjaga. Warung ini melayani pelanggan setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.
Penulis : Agung Margandhi / TAPM Kabupaten Sleman – Lokasi : (Wonosari, Gunungkidul)












