Serang, Lingkar.news – Pemerintah Provinsi Banten menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) guna mengantisipasi gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, Senin (16/02/2026).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan bahwa seluruh rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat, balai kekarantinaan, hingga pos kesehatan diinstruksikan untuk mengaktifkan layanan siaga 24 jam sesuai dengan tingkat risiko daerah masing-masing. Langkah kesiapsiagaan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026.
Ati menegaskan bahwa langkah antisipasi ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk mencegah lonjakan kasus gangguan kesehatan, meskipun kondisi saat ini masih terkendali.
“Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus,” ujarnya.
Ati menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung partikel kasar hingga sangat halus serta gas iritan yang berisiko memicu berbagai gangguan, seperti iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Selain itu, abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit, kontaminasi sumber air, hingga berkurangnya jarak pandang dan jalanan yang licin.
Terkait teknis mitigasi, Dinkes Banten mewajibkan seluruh faskes menjamin ketersediaan sarana prasarana dan obat-obatan esensial. Beberapa diantaranya meliputi sistem rujukan siaga dan ambulans, tabung oksigen dan pulse oximeter, obat bronkodilator, inhaler, beserta spacer, cairan pembilas mata steril, serta alat pelindung diri (APD) dan respirator partikulat (N95, KN95, KF94) bagi petugas medis.
Para nakes di lapangan juga ditugaskan melakukan pemantauan (surveilans) harian terhadap potensi lonjakan kasus gangguan pernapasan. Pengawasan ini diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penderita penyakit kronis. Sementara itu, stok masker dipastikan dalam kondisi aman dan akan segera mendapatkan bantuan tambahan dari Pusat Krisis Kementerian Kesehatan.
Sebagai langkah perlindungan diri bagi masyarakat, Ati memberikan imbauan praktis terkait penanganan paparan abu.
“Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering. Selain itu, pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah,” imbaunya.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis












