Yogyakarta, Lingkar.news – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi krisis ekonomi pada tahun 1998.
Hal tersebut disampaikan Misbakhun dalam sesi “1 on 1 Legislative with Mukhamad Misbakhun” pada ajang Jogja Financial Festival 2026 yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jogja Expo Center Yogyakarta, Sabtu (23/05/2026).
“Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa nilai rupiah atas dolar AS Rp17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, namun ingat rupiah saat ini mungkin pernah menyamai krisis 1998,” kata Misbakhun.
Menurut Misbakhun, pelemahan rupiah pada 1998 terjadi dari titik awal dan memiliki struktur ekonomi yang sangat berbeda dibandingkan dengan kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini.
“Rupiah Rp17.500, Rp17.800 saat krisis 1998 itu berangkat dari angka Rp2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp16.600, itu berangkat dari Rp16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita sudah berbeda,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa pada 1998, banyak sektor mengalami tekanan berat yang disebabkan oleh pinjaman dalam denominasi valuta asing serta praktik lindung nilai yang tidak memadai.
Misbakhun menilai kondisi saat ini jauh lebih stabil karena tekanan terhadap nilai tukar tidak serta-merta membuat sektor perbankan maupun swasta mengalami kegagalan seperti yang terjadi pada masa krisis 1998.
“Sekarang rupiah Rp17.600, belum ada perbankan atau swasta yang mengalami kegagalan. Tantangan saat ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga membangun pemahaman publik agar tidak mudah terpengaruh sentimen yang berkembang di media sosial,” jelas Misbakhun.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional saat ini sangat dipengaruhi oleh informasi di media sosial yang tidak selalu menggambarkan keadaan secara utuh.
“Sentimen kita itu ditentukan sekarang oleh media sosial. Cara pandang kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di media sosial,” pungkasnya. (rara-lingkar.news)













