Mataram, Lingkar.news – Dosen Sosiologi Universitas Mataram (Unram) Muhammad Arwan Rosyadi menilai kekerasan remaja merupakan persoalan sosial yang berkaitan dengan proses sosialisasi, pengaruh kelompok sebaya, serta peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk perilaku anak.
Pandangan tersebut disampaikan menyusul meninggalnya siswa SMPN 3 Mataram setelah menjadi korban penyerangan yang diduga melibatkan geng motor.
“Kalau dilihat dari perspektif sosiologi, tindakan tersebut dapat dipahami sebagai perilaku menyimpang karena melanggar norma yang berlaku di masyarakat. Selain itu, bisa juga dikaji sebagai bagian dari patologi sosial, yakni kondisi ketika terdapat persoalan dalam kehidupan sosial masyarakat,” kata Arwan di Mataram, Rabu (28/10/2026).
Pengaruh Kelompok Sebaya dan Peran Keluarga
Arwan menjelaskan, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah keberadaan subkultur menyimpang. Kelompok ini memiliki nilai, kebiasaan, atau pola perilaku yang berbeda dari norma yang berlaku di masyarakat.
Proses sosialisasi di dalam kelompok tertentu dapat membentuk cara pandang anggotanya terhadap tindakan yang dilakukan, termasuk perilaku kekerasan.
Selain pengaruh kelompok sebaya, kekerasan remaja dapat berkaitan dengan proses sosialisasi yang tidak berjalan optimal. Keluarga sebagai agen sosialisasi utama berperan menanamkan nilai, norma, tanggung jawab, serta kemampuan anak mengendalikan perilaku dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Menurut Arwan, tanggung jawab pembinaan remaja tidak hanya berada pada keluarga, tetapi juga masyarakat, sekolah, lembaga keagamaan, dan pemerintah.
Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang aman. Sementara itu, sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter dan memberikan pendampingan kepada siswa yang menunjukkan perubahan perilaku atau terindikasi terlibat dalam aktivitas berisiko.
Pengaruh Media Sosial Perlu Ditelusuri
Media sosial sebagai salah satu agen sosialisasi juga dapat memengaruhi pola interaksi dan cara pandang remaja. Melalui komunitas digital serta paparan berbagai konten, media sosial dapat menjadi ruang pembentukan identitas dan sarana menunjukkan eksistensi diri.
Namun, Arwan menegaskan bahwa pengaruh media sosial terhadap suatu kasus kekerasan perlu ditelusuri lebih lanjut berdasarkan bukti yang tersedia.
“Media sosial bisa menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi diri. Komunitas juga dapat dibangun di dunia digital, sehingga pengaruhnya terhadap perilaku remaja perlu diperhatikan,” ucap dia.
Arwan menyampaikan, tragedi yang melibatkan anak dan remaja harus menjadi momentum bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk memperkuat pengawasan serta menyediakan ruang tumbuh yang aman dan positif bagi generasi muda.
Polres Mataram Tetapkan 13 Tersangka
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Polres Mataram menetapkan 13 orang sebagai tersangka penganiayaan terhadap tiga remaja di Jalan Udayana, Mataram, Minggu (25/10). Penganiayaan tersebut mengakibatkan seorang korban berusia 14 tahun meninggal dunia.
Tiga tersangka berusia dewasa, yakni RF (18), YH (19), dan SR (18). Adapun 10 tersangka lainnya merupakan anak berusia 14–17 tahun.
Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko menyebut ketersinggungan dan pengaruh minuman beralkohol sebagai motif penyerangan terhadap pengendara di Jalan Udayana, Mataram.
Pewarta: Ichan
Editor: Saiful Muhlis












