Tangerang, Lingkar.news – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Ciangir, Banten, mengembangkan budi daya ayam petelur yang melibatkan warga binaan sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Kegiatan ini berhasil mencatatkan produksi hingga 860 kilogram telur ayam per hari.
Kalapas Ciangir, Soesanto Poedji Djatmiko, pada Kamis (9/7/2026) menyampaikan bahwa produksi telur ayam boiler tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan (Bama) di dalam lapas, tetapi juga dipasarkan ke wilayah Tangerang, Jakarta, hingga kerja sama dengan sektor perhotelan.
“Kami juga sudah ada kerja sama untuk memasok telur ayam ke perhotelan,” kata Tanto, sapaan akrab Kalapas Ciangir.
Tanto menjelaskan, program yang belum genap setahun berjalan ini kini telah memiliki tiga rumah budi daya dengan kapasitas 35 ribu ekor ayam, dan ditargetkan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 60 ribu ekor. Dalam setiap kandang, terdapat satu warga binaan yang bertanggung jawab mengurus pakan dan memanen hasil telur.
Terkait pengelolaan sumber daya manusia, pihak lapas memastikan seluruh warga binaan yang menjalani asimilasi di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) telah melalui proses asesmen ketat dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Ciangir.
“Saat ini lapas dihuni 50 warga binaan, besok akan datang 20 orang lagi. Jadi totalnya 70 warga binaan,” ujar Tanto.
Selain ayam petelur, program ketahanan pangan di Lapas Ciangir juga mencakup budi daya domba, sapi, ayam kampung, perikanan, hingga pertanian sayuran dan padi yang memanfaatkan lahan seluas 8 hektare dari total 23 hektare yang tersedia.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten, Lili, menegaskan bahwa keterlibatan warga binaan di Lapas Ciangir merupakan langkah konkret untuk mendukung Astacita Presiden terkait ketahanan pangan, sekaligus mengimplementasikan program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.
“Jadi warga binaan di Lapas Ciangir ini berasal dari lapas-lapas yang ada di wilayah Banten dan Jakarta, yang sudah berstatus risiko rendah dan sudah menjalani setengah masa pidana, berkelakuan baik tentunya, tidak ada catatan buruk,” jelas Lili.
“Mereka selain dilatih keterampilan beternak dan pertanian, mereka juga mendapatkan premi,” tambah Lili.
Merespons program ini, salah satu warga binaan, Mukhriji (21), mengaku merasa terbantu dengan keterampilan yang ia dapatkan selama menjalani masa asimilasi. Ia berencana menerapkan ilmu peternakan domba yang diperolehnya untuk memulai usaha mandiri setelah masa hukumannya berakhir.
“Saya milih mau dilatih di peternakan domba, karena kebetulan di kampung asal saya ada peternakan domba, jadi rencananya ilmunya mau saya gunakan setelah bebas nanti,” kata Mukhriji.
Selain mendapatkan keahlian, Mukhriji menuturkan bahwa para warga binaan juga memperoleh pendapatan tambahan melalui program premi yang diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kerja mereka.
“Saya sudah dua bulan di sini. Sebulan itu premi yang saya dapatkan Rp800 ribu,” ujar Mukhriji.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis













