BANJARBARU, Lingkar.news – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 1.299 titik panas di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu (2/9/2026).
Kondisi itu terjadi ketika seluruh wilayah Kalsel didominasi kategori sangat mudah terbakar berdasarkan sistem peringatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru BMKG Kalsel Adhitya Prakoso mengatakan data tersebut terdeteksi setelah pemantauan satelit pada pukul 07.00 Wita yang berlaku untuk kondisi hari ini.
“Total 1.299 titik panas tersebut terdeteksi ditemukan 12 kabupaten dan kota, sementara Banjarmasin tidak ditemukan titik panas,” ucapnya di Banjarbaru, Rabu 92/9/2026).
Berdasarkan tingkat kepercayaan hasil pemantauan satelit, sebanyak 231 titik panas berada pada kategori rendah, 993 titik kategori sedang, dan 75 titik kategori tinggi.
Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 286 titik. Jumlah tersebut terdiri atas 41 titik kategori rendah, 220 titik kategori sedang, dan 25 titik kategori tinggi.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan berada di urutan kedua dengan 254 titik panas, terdiri atas 52 titik kategori rendah, 196 titik kategori sedang, dan enam titik kategori tinggi.
Selanjutnya, Kabupaten Barito Kuala mencatat 179 titik panas, terdiri atas 34 titik kategori rendah, 129 titik kategori sedang, dan 16 titik kategori tinggi.
Kabupaten Tapin mencatat 149 titik panas, disusul Hulu Sungai Utara sebanyak 120 titik, Tanah Laut 73 titik, Tanah Bumbu 63 titik, Kota Banjarbaru 59 titik, dan Hulu Sungai Tengah 49 titik.
Sementara itu, Kabupaten Kotabaru mencatat 34 titik panas yang terdiri atas dua titik kategori rendah dan 32 titik kategori sedang. Balangan mencatat 26 titik dan Tabalong tujuh titik.
Pada Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Lahan/Hutan BMKG, indikator Fire Weather Index menunjukkan seluruh wilayah Kalimantan Selatan didominasi warna merah. Kondisi tersebut menandakan potensi kebakaran berada pada kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar.
“Kondisi tersebut dipengaruhi tingkat kekeringan ekstrem pada vegetasi seperti semak belukar, serasah kering, serta lapisan tanah gambut di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan sehingga sangat rentan tersulut api dan memicu penyebaran kebakaran hutan dan lahan secara cepat,” ujar Adhitya.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki













