JAKARTA, Lingkar.news — Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Komite Sadar menggelar aksi massa di Jakarta dengan mengusung tema “Tepati atau Pergi.”
Dalam aksi ini, massa menyuarakan lima tuntutan mendesak sekaligus menonjolkan simbol tiga jari (three-finger salute) sebagai bentuk perlawanan.
Aksi yang diinisiasi oleh Komite Sadar ini mencakup aliansi lintas kampus, di antaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, BEM Universitas Diponegoro, Serikat Mahasiswa UGM, Keluarga Mahasiswa ITB, hingga BEM KM Universitas Negeri Semarang.
BEM UI menyebut demo 28 Oktober 2026 merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang dihelat di Tugu Tani, Jakarta, pada 20 Oktober 2026, bertepatan dua tahun kekuasaan Prabowo-Gibran.
Makna Simbol Three Finger Salute Komite Sadar
Di media sosial maupun di lapangan, Komite Sadar menonjolkan simbol tiga jari (three-finger salute) yang dipopulerkan novel The Hunger Games sebagai materi kampanye.
Three-finger salute telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas melampaui batas-batas fiksi.
Jauh sebelum riuh di jalanan, three-finger salute, sambung BEM UI, telah menjadi bahasa universal bagi gerakan sosial prodemokrasi di berbagai belahan dunia.

“Mulai dari penolakan kudeta militer di Thailand dan Myanmar hingga perlawanan terhadap represi di Hong Kong. Terinspirasi dari semangat Revolusi Prancis, setiap jari membawa manifestasi nilai liberté (kebebasan), égalité (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan),” ucap BEM UI.
Dengan simbol itu, BEM UI menilai sudah saatnya kita merebut kembali ruang demokrasi.
“Penggunaan simbol ini adalah identitas kita bersama untuk merapatkan barisan, baik di jalanan maupun dalam aktivisme digital,” tegas mereka.
Selain di Jakarta, aksi serentak juga bergerak di daerah lain. Sementara di Yogyakarta, aksi dijadwalkan berlangsung di tiga lokasi: area gedung DPRD, depan Istana Negara, serta sekitar Nol Kilometer.
Akun Gejayan Memanggil, lewat unggahannya, mengutarakan aksi hari ini tak ubahnya “menari-nari di jalanan.”
Mereka turut mengingatkan kepada peserta aksi supaya menanggalkan jaket almamater tempat menimba ilmu.
Selain dari akun Gejayan Memanggil, ajakan untuk turun demo dilontarkan Forum BEM DIY, BEM KM Fakultas Vokasi UNY, serta Serikat Pekerja Kampus.
Daftar 5 Tuntutan Utama Komite Sadar
Terdapat lima tuntutan utama yang dibawa oleh Komite Sadar dalam aksi ini:
- Penanganan Bencana Ekologis dan Tata Kelola Lahan
- Evaluasi Anggaran APBN dan Program Pemerintah
Di mana pengelolaan APBN harus berdasarkan kepentingan rakyat dengan cara menghentikan program-program yang dinilai tidak memberi manfaat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“MBG dan KDMP hanya secuil dari program politik untuk bagi-bagi kue yang digunakan oleh rezim ini. Pertanyaannya, kalau yang diuntungkan dari program pemerintah adalah TNI, Polri, dan oligarki, untuk apa rakyat membiayainya?” tanya mereka.
- Biaya Pendidikan dan Akses Pelayanan Dasar
Hanya 6,03 persen warga pedesaan lulus perguruan tinggi, kurang dari separuh angka di kota. Rantainya berlanjut ke dunia kerja, dengan 35,40 persen pekerja di Indonesia hanya berpendidikan SD ke bawah dan terjebak di pekerjaan tanpa perlindungan.
- Pemberantasan KKN dan Penegakan Hukum
- Kebebasan Bersuara dan Penolakan Militerisasi
Komite Sadar mendesak pemerintah “mengembalikan kebebasan bersuara, mengadili pelanggar HAM, dan menghentikan militerisasi ruang sipil.”
Contohnya peristiwa yang membuat pengemudi ojol, Affan Kurniawan, tewas dilindas mobil Brimob saat demonstrasi. Lalu ada aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang disiram air keras lantaran aktif menolak militerisasi.
(Lingkar.news Network/Asih)












